Teknologi
nano atau nanotechnology sekarang makin pesat perkembangannya. Nanometer
sendiri artinya satu per satu miliar meter, sehingga teknologi ini juga
berkaitan dengan penciptaan benda-benda kecil. Di dalamnya tergabung ilmu
fisika, teknik, biologi molekuler, serta kimia.
ALBERT Einstein sendiri, sebagai bagian disertasi doktornya,
mengalkulasi ukuran sebuah molekul gula dari data eksperimen. Hasilnya tiap
molekul berukuran sekitar satu nanometer. Hampir seratus tahun kemudian, nanometer
pun telah menjadi agenda banyak peneliti.
Tapi, sebenarnya tidak semua teknologi nano tadi benar-benar nano.
Ada yang aslinya menangani struktur ukuran mikron atau satu per satu juta
meter, seperseribu, dan yang lebih besar daripada nano lainnya. Teknologi nano
pada kebanyakan kasus juga bukan benar-benar teknologi. Tapi, lebih berupa
penelitian dasar terhadap aneka struktur dengan dimensi satu sampai ratusan
nanometer.
Kerancuan lainnya, sejumlah teknologi nano sudah ada sejak dulu.
Contohnya partikel karbon hitam ukuran nano sudah dimanfaatkan sebagai pelekat
tambahan ban mobil sejak seratus tahun silam. Vaksin yang kerap terdiri dari
satu atau banyak protein berdimensi skala nano juga bisa dimasukkan dalam
teknologi tersebut.
Alam telah banyak menciptakan struktur nano. Tapi, definisinya
yang lebih ketat mungkin seperti yang disampaikan Mihail C Rocco dari National
Science Foundation (NSF) di Amerika Serikat. Menurut Mihail dalam situs
Sciam.com, teknologi nano memiliki sejumlah unsur penting; dimensinya antara
satu sampai 100 nanometer, didesain melalui proses pengontrolan bahan kimia dan
fisika, serta bisa digabungkan membentuk struktur lebih besar.
Dan, teknologi yang sesuai definisi tadi benar-benar ada. Misalnya
penggabungan beberapa lapis nonmagnetik, tiap lapis tebalnya kurang dari satu nanometer,
dapat menghasilkan sensor untuk disk drive yang lebih sensitif. Sejak
diperkenalkan 1975, produk magnetik ini sudah menjadi pendorong tumbuhnya
industri penyimpanan data.
Semakin kecilnya ukuran cip elektronik juga menjadi faktor yang
menumbuhkan minat dalam teknologi nano. Perusahaan komputer yang mempunyai
laboratorium besar, misalnya IBM dan Hewlett-Packard, memasukkan program nano
dalam kegiatannya. Saat peralatan elektronik silikon konvensional tidak dipakai
lagi, mungkin sepuluh atau 25 tahun mendatang, bisa dipastikan peralatan
elektronik teknologi nano akan menggantikannya.
Di luar biologi dan elektronik, partikel nano dipakai untuk
meningkatkan mutu produk keseharian. Misalnya perusahaan bernama Nanophase
Technologies telah membuat partikel zinc oxide untuk produk tabir matahari
(sunscreen), sehingga krim yang biasanya berwarna putih berubah transparan
Teknologi impian
Pihak pemerintah AS sendiri memiliki agenda tersendiri untuk
teknologi nano. Mereka ingin menciptakan bahan ukuran nano yang bisa mengurangi
ukuran, berat, dan kebutuhan sumber listrik dari pesawat luar angkasa, membuat
proses manufaktur ramah lingkungan, serta membentuk dasar bagi pestisida
biodegradable.
Tiap penelitian mempunyai risikonya sendiri. Tapi, teknologi nano
memiliki masalahnya sendiri. Keinginan mewujudkannya sebagai kaidah ilmu yang
terhormat kerap tercampur dengan asosiasi para futuris yang melihat nano
sebagai jalan ke techno-utopia, misalnya dunia industri tanpa polusi, kemakmuran
tanpa batas, bahkan keinginan mencapai kehidupan abadi.
Tahun 1986 misalnya muncul buku Engines of Creation karya K Eric
Drexler yang cukup populer. Buku ini menggambarkan sejumlah mesin nano yang
secara virtual mampu memproduksi segala jenis barang, lalu melenyapkan masalah
pemanasan global, menyembuhkan penyakit, serta memperpanjang usia hidup secara
dramatis.
Bagi kalangan nonilmuwan, angan-angan Drexler terhadap teknologi
nano dipandang sebagai jembatan penghubung dunia ilmiah dan fiksi. Ilmuwan yang
selalu ingin mencari solusi pasti juga tertarik terhadap pembicaraan mengenai
produk penunda ketuaan ataupun mesin penumbuh makanan.
Secara tidak langsung, karya Drexler mungkin juga bisa benar-benar
menarik orang terjun ke dunia ilmiah. Sebagai subgenre buku fiksi ilmiah,
karya-karya teknologi Drexler layaknya film Star Trek yang mendorong minat para
remaja akan luar angkasa sehingga nantinya berkarier dalam astrofisika atau
aeronautika.
Di antara para ahli kimia dan ilmuwan yang sekarang menjadi ahli teknologi
nano, prediksi Drexler memiliki daya tarik tersendiri. Soalnya sampai sekarang
belum dapat diciptakan mesin-mesin nanoskopik yang misalnya mampu menolong
membangkitkan kembali otak yang sudah dibekukan.
Zyvex, sebuah perusahaan yang tertarik dengan teknologi nano ala
Drexlerian, sudah mengalami betapa sulitnya menciptakan robot berukuran
nanometer. Jadi, perusahaan tersebut sekarang lebih puas menangani elemen
mikromekanis yang lebih besar.
Di luar masalah tadi, dunia teknologi nano masih bergelut untuk
menyatukan pandangan. Beberapa riset akan tetap berjalan apa pun namanya. IBM
misalnya akan tetap membangun produk magnetoresistive tanpa memperhitungkan
apakah penelitiannya disebut teknologi nano atau bukan.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar